Artikel

Sejarah Hajar Aswad dan Hubungannya Dengan Ritual Haji dan Umroh

Bagi Jamaah Haji maupun umroh,Hajar Aswad menjadi salah satu yang jadi perhatian dan primadona para jamaah dengan tujuan untuk bisa melaksanakan sunnah nabi yaitu mencium hajar aswad yang terletak di salah satu sudut Ka’bah.Saking besarnya minat untuk mencium Hajar Aswad tersebut dibutuhkan tenaga yang besar untuk bisa sampai ke lokasinya karena banyaknya jamaah yang berebutan untuk menciumnya. Namun mungkin belum banyak yang tahu sejarah dari Hajar Aswad itu sendiri. Berikut ulasan engkap tentangnya

Awal mulanya, Hajar Aswad adalah salah batu yang ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS ketika merekasedang membangun Ka’bah. Ketika Nabi Ismail mencari batu tambahan untuk bangunan Ka’bah Ia menemukan batu tersebut . Batu tersebut lalu diserahkannya kepada ayahnya. Saking tertariknya Nabi Ibrahim kepada batu tersebut sehingga dia menciuminya berulang-ulang kali. Saat akan menempatkan batu tersebut pada tempatnya, mereka terlebih dahulu menggendongnya sambil berlari-lari kecil memutari bangunan Ka’bah sebanyak tujuh putaran.

Hajar Aswad telah terlibat dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang penting sepanjang sejarahnya yang sangat panjang tersebut,Salah satunya yang penting adalah peristiwa yang melibatkan Nabi Muhammad SAW sebagai pemeran utama. Hal itu terjadi sekitar lima tahun sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul, yakni ketika beliau berumur 35 tahun, dimana saat itu diadakan pemugaran Ka’bah karena adanya beberapa kerusakan.

Pemugaran tersebut dilakukan atas dasar kesepakatan para pemuka kabilah suku Quraisy yang ada di Kota Makkah. Akan tetapi, terjadi perselisihan yang hampir saja mengakibatkan pertumpahan darah di antara sesama masyarakat Quraisy , ketika akan menetapkan siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad pada posisinya semula. Masing-masing tokoh merasa paling berhak untuk menempatkan kembali batu tersebut.

Saat perselisihan semakin memuncak, muncullah Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi memberikan masukan agar permasalahan tersebut diserahkan kepada seseorang yang akan menjadi sang pengadil. Dia menyarankan agar orang tersebut adalah siapa orang yang pertama kali memasuki Masjidil Haram melalui Bab Al-Shafa pada hari itu. Usulan tersebut disetujui oleh semua pemuka Quraisy. Ternyata, orang yang pertama kali memasuki Masjidil Haram melalui Bab Al-Shafa pada hari tersebut adalah Muhammad bin Abdullah. Maka disepakatilah Muhammad bin Abdullah sebagai orang yang akan mengadili perkara penempatan kembali Hajar Aswad tersebut.

Pada peristiwa inilah semakin memperlihatkan kualitas pribadi Muhammad bin Abdullah. Melalui kecerdasan dan kebijaksanaan yang dimilikinya, Muhammad suksesl memberikan jalan keluar “ win – win solution” yang dapat diterima semua pihak. Beliau menghamparkan sehelai kain di tanah, lalu mengangkat Hajar Aswad dan menempatkannya di atas bentangan kain tersebut. Lalu beliau meminta setiap pemuka kabilah Quraisy memegang masing-masing sudut dan sisi kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya untuk membawa Hajar Aswad ke tempatnya semula. Saat sampai ke dekat tempat Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengangkat dan menempatkan Hajar Aswad ke tempat aslinya.

Dengan melalui cara Nabi Muhammad tersebut, para pemuka Quraisy merasa sama-sama punya andil dalam menempatkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula.Cara yang sederhana dan bijaksana yang ditempuh Muhammad bin Abdullah tersebut berhasil menghindarkan persengketaan yang hampir terjadi dan berhasil pula memuaskan semua pihak. Maka sejak saat itu, rasa percaya dan hormat kaum Quraisy kepada Muhammad bin Abdullah semakin meningkat.

Peristiwa besar lain yang melibatkan Hajar Aswad adalah peristiwa pencurian dan penyanderaan Hajar Aswad yang dilakukan oleh kelompok atau golongan Qaramithah. Pada akhir abad ke-9 M mereka melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Islam Dinasti Abbasiyah yang sedang berada dalam periode kemunduran dan perpecahan. Pada tahun 317 H Pasukan Qaramithah di bawah pimpinan Abu Thahir Al-Qurmuthi berhasil mengobrak-abrik kota Makkah, mencuri Hajar Aswad dan membawanya ke pusat gerakan mereka di belahan timur semenanjung Arabia di kawasan Teluk Persia.

Lalu Hajar Aswad mereka bawa ke Kufah dan mereka menyanderanya pada tahun-tahun 930-951 M (317-339 H). Mereka meminta tebusan untuk mengembalikan Hajar Aswad tersebut. Jumlah uang tebusan yang mereka minta sangat besar sehingga susah untuk dipenuhi oleh pemerintah saat itu.

Setelah berlangsug selama 22 tahun Hajar Aswad di tangan para penyandera tersebut, akhirya kaum Qaramithah di bawah Abu Ishak Al-Muzakki mengembalikan Hajar Aswad ke tempat asalnya di Ka’bah. Menurut riwayat, Khalifah Al-Muthi’ Lillah dari Dinasti Abbasiyah harus mengeluarkan uang sebanyak 30.000 dinar sebagai imbalan pengembalian Hajar Aswad tersebut.

Hajar Aswad dan Prosesi Thawaf

Hajar Aswad memiliki peranan yang penting dan menentukan dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Fungsi Hajar Aswad akan terlihat terutama dalam pelaksanaan thawaf yang merupakan salah satu rukun haji. Dalam hal pelaksanaan thawaf, para ulama telah sepakat bahwa salah satu syarat sahnya thawaf adalah dimulai dari posisi yang lurus sejajar dengan Hajar Aswad. Ulama Syafi’iyah menetapkan bahwa apabila akan melaksanakan thawaf, harus memulainya dengan menempatkan badan sejajar lurus dengan Hajar Aswad di mana posisi Hajar Aswad berada di sebelah kiri pelaku thawaf. Tidak boleh ada anggota badan sedikit pun yang melebihi posisi sejajar dengan Hajar Aswad. Begitupun saat mengakhiri putaran thawaf harus memposisikan badan lurus sejajar dengan Hajar Aswad, tidak boleh ada anggota badan yang berada di belakang garis sejajar tersebut.

Ulama Malikiyah memiliki pendapat bahwa memulai thawaf harus pada posisi lurus dan sejajar dengan Hajar Aswad. Bila seseorang memulai thawaf pada sebelum garis sejajar Hajar Awad, maka dia harus dan wajib menyempurnakan thawaf putaran akhir sampai ke garis sejajar Hajar Aswad. Tidak boleh hanya sampai ke tempat dia memulai thawaf. Jika dia tidak menyempurnakan akhir putarannya sampai ke garis sejajar Hajar Aswad, dan telah berlangsung waktu yang lama atau telah batal wudhunya, maka dia diharuskan mengulangi thawafnya dari awal kembali. Apabila dia telah kembali ke negerinya sebelum menyempurnakan thawaf tersebut, maka dia wajib membayar denda (dam) berupa seekor hewan korban.

Ulama Hanabilah memberikan pendapat bahwa putaran thawaf harus dimulai dari Hajar Aswad. Putaran thawaf yang tidak dimulai dari Hajar Aswad dianggap tidak sah dan tidak dihitung sebagai satu putaran.

Ulama Hanafiyah juga berpendapat bahwa wajib memulai thawaf dari Hajar Aswad. Jika tidak memulai dari Hajar Aswad, wajib diulangi selama masih berada di Makkah. Jika telah pulang, maka wajib membayar denda (dam).

Selain berkaitan dengan syarat sah thawaf sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, ada beberapa amalan sunah dalam ibadah haji, khususnya dalam pelaksanaan thawaf, yang berkaitan dengan Hajar Aswad. Amalan-amalan sunah tersebut dapat dilihat dalam penjelasan /pendapat para ulama berikut ini:

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa disunnahkan pada saat baru akan memulai thawaf, berdiri di sisi Hajar Aswad menghadap ke arah Rukun Yamani dari Ka’bah dengan Hajar Aswad berada di sebelah kanan. Pundak kanan berada di ujung Hajar Aswad. Lalu berniat untuk thawaf. Lalu menghadap ke kanan ke arah Hajar Aswad dan berjalan menuju pintu Ka’bah. Setelah melewati Hajar Aswad, menghadap kanan dan menjadikan Ka’bah di sebelah kiri dan memulai thawaf. Langkah ini hanya dikerjakan pada putaran pertama.

Disunahkan juga menyentuh Hajar Aswad dan mencium sekadarnya ketika memulai thawaf. Disunahkan bagi laki-laki untuk meletakkan dahinya ke Hajar Aswad serta menyentuh dan menciumnya sebanyak tiga kali. Jika tidak mampu menyentuh secara langsung, bisa dengan menggunakan tongkat atau galah, lalu mencium ujung tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut. Jika masih belum bisa juga, cukup dengan isyarat tangan dimana menggunakan tangan kanan lebih diutamakan.

Proses menyentuh dan mencium Hajar Aswad ini dinamakan dengan istilah Istilam. Disunnahkan pula berdoa dan membaca “Bismillahi Allahu Akbar” ketika menyentuh atau melalui Hajar Aswad sambil mengangkat kedua tangan seperti ketika shalat. Lalu membaca: “Allahumma Imanan bika wa tashdfqan bikitabika wa wafa’an bi’ahdika wattiba ’an lisunnati nabiyyika Muhammadin SAW.” Bacaan ini lebih dimuakkadkan( di kuatkan) pada thawaf pertama daripada pada thawaf lainnya.

Ulama Malikiyah memiliki pendapat bahwa disunnahkan menyentuh Hajar Aswad pada putaran pertama thawaf Lalu bertakbir. Jika tidak dapat mencium Hajar Aswad, hendaklah menyentuh dengan tangan. Jika tidak mampu menyentuh secara langsung, bisa dengan menggunakan tongkat atau galah, lalu menyentuhkan ke mulut ujung tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut dan bertakbir. Jika tidak juga bisa, cukup dengan bertakbir setiap kali melewati dan menghadap Hajar Aswad. Masih menurut pendapat ulama Malikiyah, disunnahkan juga mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani pada putaran pertama.

Ulama Hanabilah memiliki pendapat bahwa disunnahkan menyentuh dan mencium Hajar Aswad pada setiap putaran dengan syarat tidak kesulitan untuk melaksanakannya. Jika tidak bisa atau sulit untuk melaksanakannya, maka cukup dengan memberi isyarat dengan tangan ketika menghadap Hajar Aswad.

Ulama Hanafiyah memberikan pendapat bahwa disunahkan menyentuh dan mencium Hajar Aswad pada akhir putaran. Berniat menyentuh dan mencium Hajar Aswad pada putaran pertama dan terakhir adalah sunat muakkad. Jika tidak dapat menyentuh dan mencium, hendaklah menyentuh dengan tangan. Jika tidak mampu menyentuh secara langsung, bisa dengan menggunakan tongkat atau galah, lalu mencium ujung tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut. Namun Jika tidak juga bisa, cukup dengan menghadap ke Hajar Aswad, mengangkat tangan dan menghadapkan bagian tangan sebelah dalam kepadanya, lalu bertakbir, bertahlil, memuji Allah SWT dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Demikian sejarah Hajar Aswad dan hubungannya dengan ritual Ibadah Haji atau Umrah,semoga kita semua tercerahkan dan mendapat ilmu tambahan

Reference :Republika.co.id


No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Comment

 

— required *

— required *