Artikel

Bagaimana memuliakan Ka’bah ?

ka'bahMemuliakan dan mengagungkan kabah bukan berarti kita menyembah atau mengkultuskan kabah. Jika sampai kabah yang kita sembah, maka itu berarti kita telah jatuh kepada syirik. Karena peranan kabah sebagai simbol itulah kita dapat memahami kenapa kabah bisa tertimbun pasir di zaman Nabi Nuh, atau tidak menjadi arah kiblat karena umat Islam pernah berkiblat ke Baitul Maqdis sebelum kabah ditetapkan sebagai arah kiblat seperti yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 142 dan 144.      

Namun demikian jika kita menganggap enteng kabah sehingga tidak tersentuh sama sekali ketika melihatnya, ditakutkan kita juga jatuh ke dalam kondisi sesat, karena kabahlah satu-satunya rumah yang dimuliakan Allah di muka bumi, sehingga tepatlah Nabi mengatakan bahwa memandang kabah akan mendapatkan pahala.

Demikianlah Rasulullah memuliakan kabah, sehingga kita sebagai umatnya patut untuk memuliakannya pula dan berusaha untuk mendekatinya, berkumpul dan bersatu dengan umat Islam di seluruh belahan dunia.

Penjagaan Ka’bah      

Kabah selalu dijaga oleh “askar” atau polisi atau tim keamanan kota Mekah. Penjagaan ini di samping untuk mengatur jalannya thawaf agar tidak menimbulkan kecelakaan, juga untuk mencegah mereka yang terlalu emosional terhadap kabah serta benda-benda lainnya yang berada di sekitarnya.

Tidak jarang dari mereka yang sudah mencapai dinding kabah, kemudian menangis dan bahkan meranung-raung sambil mengemukakan maksudnya. Maka para askar (polisi atau keamanan) akan mengatakan “haram”. Bahkan bagi mereka yang terus menerus bandel, askar akan memukulkan kain seperti sajadah yang sudah digulungkan seperti kayu kepada badan mereka. Karena menurut syariat Islam, mendekati kabah cukup dengan mengusap atau mencium serta kemudian berdoa, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.


No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Comment

 

— required *

— required *